Berita Keuangan

Baca artikel keuangan terkini.

Rekomendasi

Waspadai Diabetes pada Remaja dan Anak

Waspadai Diabetes pada Remaja dan Anak

Suka ngopi di kafe? Suka ngemil yang manis-manis dan berkarbohidrat tinggi? Main gawai suka lupa waktu? 

Hati-hati ya, guys, penyakit Diabetes Melitus (DM) kini tidak hanya mengancam orang dewasa.  Beberapa tahun terakhir, penderita diabetes pada remaja, orang muda dan anak-anak  juga semakin banyak ditemukan. Data International Diabetes Federation (IDF) menyebutkan, saat ini ada sekitar 425 juta orang di dunia mengidap diabetes. Dan dari jumlah tersebut, lebih dari 1 juta penderita adalah kalangan anak dan remaja di bawah usia 20 yang mengidap diabetes tipe 1.

Jumlah ini terus meningkat dan akan menjadi beban global. Karena itu, kalau tidak segera ditanggulangi, jumlah penderita diabetes diperkirakan akan meningkat menjadi 629 juta pada 2045. Pada saat yang sama, jumlah orang dengan gangguan toleransi glukosa berisiko tinggi menjadi diabetes jumlahnya juga cukup tinggi. Yaitu lebih dari 325 juta jiwa.

Pada hari diabetes sedunia ini, yuk kita pelajari faktor-faktor yang menjadi risiko diabetes di kalangan milenial dan jadikan sebagai kewaspadaan.  

Gaya Hidup dan Prevalensi  Diabetes pada Remaja dan Anak

Meningkatnya prevalensi diabetes pada remaja dan anak, muncul seiring dengan meningkatnya tingkat obesitas.

Anda pasti sadar dong,  bagaimana gaya hidup kebanyakan anak milenial yang modern dan serba instan? Coba evaluasi, apakah selama ini sudah mempraktikkan gaya hidup sehat seperti aktivitas fisik yang cukup, asupan makanan seimbang, dan diet yang benar? 
 
Coba periksa, apakah Anda punya kebiasaan ngopi di kafe, minum kopi dengan susu atau kopi dengan pemanis dan berbagai varian rasa menantang lainnya. Termasuk  makanan kecil yang memiliki kandungan gula tinggi. 

Belum lagi ngemil jajanan yang tampak menarik dan menambah selera makan. Padahal makanan tersebut, kebanyakan mengandung gula atau tinggi lemak serta diolah dengan cara yang tidak tepat. Seperti banyak menggunakan gula, santan, dan minyak.  

Penyebab lain munculnya potensi diabetes pada remaja adalah kurang istirahat dan jarang melakukan aktivitas fisik. Gaya hidup seperti ini sangat dekat dengan keseharian anak-anak dan generasi milenial yang ke mana-mana tidak mau ketinggalan gawai. Mereka bisa menghabiskan waktu dengan duduk, bermain gawai disertai memakan berbagai cemilan hingga berat badan naik tidak terkontrol.

Gejala Diabetes pada Remaja dan Anak

Sebelum masuk ke gejala yang terlihat, mari ketahui dulu tentang penyakit diabetes. Diabetes melitus atau dikenal dengan singkatan DM merupakan gangguan metabolik pada fungsi pancreas (organ yang terletak di belakang lambung). 

Gangguan tersebut bisa terjadi karena sistem kekebalan salah dalam melawan ancaman yang membahayakan tubuh. Alih-alih melawan kuman yang masuk, ia malah menyerang dan menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas sehingga pankreas tidak mampu menghasilkan insulin dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, kadar glukosa dapat meningkat tinggi. Hal ini dikenal dengan diabetes tipe 1 atau penyakit autoimun diabetes. Sementara diabetes tipe-2 disebabkan karena sel-sel tubuh kurang sensitif hingga tidak mampu lagi merespon insulin.
 
Insulin merupakan hormon yang dilepaskan oleh kelenjar pankreas. Berfungsi membantu membantu tubuh menyerap glukosa dari aliran darah ke sel tubuh agar kadar gula darah tetap terkontrol dan digunakan sebagai energi. Sel dalam tubuh manusia membutuhkan glukosa agar dapat bekerja dengan normal. Jika fungsi insulin terganggu, sel-sel tubuh tidak dapat menyerap dan mengolah glukosa. Akibatnya, glukosa menumpuk dalam darah sehingga kadar gula darah bisa menjadi sangat tinggi.  

Gejala Diabetes pada Remaja dan Anak

Dr Rochsismandoko, SP. PD, KEMD, FINASIM, FACE Dokter Spesialis Penyakit Dalam-Konsultan Endokrin Metabolik dan Diabetes Omni Hospitals Alam Sutera memaparkan bahwa kita dapat mengetahui apakah seseorang menderita DM 2 melalui beberapa gejala.

Antara lain rasa haus yang berlebihan dan mulut menjadi kering, sering berkemih, sering merasa kekurangan energi hingga kelelahan yang ekstrim. Juga kesemutan pada anggota tubuh seperti rasa kesemutan pada kaki dan tangan, ada infeksi jamur berulang kali yang terjadi pada kulit, serta penglihatan kabur dan lambat penyembuhan jika terjadi luka.
 
“Gejala pada DM tipe 2 sebenarnya lebih mudah dikendalikan dengan gaya hidup sehat dan memantau kadar glukosa dalam darah. Masalahnya, penderita acap kali tidak menyadari dia sudah mengidap diabetes. Jika pun sudah menyadarinya seringkali cenderung diabaikan karena penyakit ini berlangsung dalam jangka waktu lama,” paparnya.

Sementara pada anak, ada beberapa tanda fisik yang menunjukkan gejala diabetes. Antara lain, sering merasa haus, lebih sering buang air kecil hingga ngompol. Juga sering merasa lapar, dan walau sudah makan dalam porsi banyak, tetapi berat badan terus menurun dalam waktu singkat. 

Tanda lainnya, anak sering merasa lelah dan lesu. Menurutnya, ini terjadi karena tubuh tidak mampu mengolah gula menjadi energi sehingga anak mudah lelah, mudah marah, dan sering murung. Selain itu, ia juga mengingatkan kewaspadaan Anda jika menemukan infeksi jamur pada area vagina anak perempuan atau ruam popok karena jamur pada bayi.

“Jika gejala-gejala tersebut di atas terlihat pada anak Anda, segeralah konsultasi ke dokter anak atau ahli gizi sebagai langkah terbaik mengenal dan menangani gejala penyakit diabetes. Meski gejala pun tidak dikenali orang tua, jika dibiarkan, dapat berkembang menjadi penyakit komplikasi serius dan merusak organ tubuh serta jaringan,” ujar dr Rochsismandoko.

Menurutnya, jika orang tua memiliki riwayat Diabetes Melitus (DM) maka anak berpotensi juga mengidap DM karena faktor genetik. Anak dengan diabetes tipe 1 sangat bergantung pada insulin dari luar yang dimasukkan ke dalam tubuh setiap hari untuk mengontrol kadar gula darahnya agar tetap seimbang.

Masih kata dr Rochsismandoko,  bila Ibu memiliki gangguan imun dan menyerang sel penghasil insulin dan kebetulan gen tersebut dominan maka bisa diturunkan pada anaknya.

Walau kecenderungan ini juga tidak pasti karena aktivasi gen DM bisa disebabkan oleh banyak hal hingga memunculkan penyakit DM, namun ada baiknya orang tua yang terkena DM lebih waspada dengan memperhatikan aktivitas dan pola makan anak. Selain itu  praktikkan gaya hidup sehat supaya menjadi kebiasaan anak hingga tumbuh dewasa. Menurutnya, hal ini juga adalah salah satu cara untuk mencegah prevalensi DM.

Antisipasi Biaya Perawatan Diabetes dengan Asuransi Kesehatan

Health Claim Senior Manager Sequis dr.Yosef Fransiscus mengatakan bahwa diabetes tergolong penyakit yang berpotensi memakan biaya besar untuk perawatan medis. Bahkan pada DM tipe 1, penderita harus terus menerus dikontrol dengan insulin seumur hidup.  Harapan sembuh saat masuk rumah sakit, sangat terkendala tingginya biaya pengobatan mengingat perawatan harus dilakukan secaya kontinyu. . 

“Biaya pengobatan masih menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat. Karena itu, ada baiknya ketika tubuh masih sehat dan usia masih produktif, segeralah lengkapi diri dan keluarga dengan perlindungan asuransi kesehatan,” tambah Head of Corporate Branding, Marketing and Communication Sequis Felicia Gunawan 

Dari sisi keuangan, Felicia menganjurkan adanya asuransi kesehatan sedini mungkin yang dilengkapi dengan asuransi penyakit kritis. Pasalnya, semakin dibiarkan penyakit ini bisa berkembang menjadi komplikasi berbahaya yang konsekuensi biayanya juga akan lebih tinggi. 

Felicia mengatakan, diabetes dapat ditanggung oleh asuransi kesehatan termasuk untuk pasien berusia dini atau bayi. Dengan syarat, kondisi itu bukan bawaan lahir atau kondisi yang sudah ada sebelumnya dengan masa tunggu 12 bulan. Artinya pertangggungan akan dimulai setelah melewati masa tunggu 12 bulan. 

“Mengingat risiko sakit dapat datang kapan saja, maka sebaiknya selagi masih sehat mulailah menyiapkan perlindungan berupa asuransi kesehatan dan penyakit kritis bagi diri dan keluarga,” ujar Felicia. Ia meyakini, asuransi dapat membantu masyarakat mewujudkan hari esok yang lebih baik jika dimiliki sejak usia muda, masih produktif, dan masih sehat.
 
Relevan dengan penyakit diabetes, Felicia menyebut Sequis memiliki 4 produk asuransi kesehatan  yang ia sarankan untuk nasabahnya dan masyarakat Indonesia. Masing-masing adalah Sequis Q Health Easy, Sequis Q Infinite MedCare, Sequis Q Health Platinum Plus Rider serta Sequis Q Health Gold Plus.

“Empat produk asuransi kesehatan ini merupakan asuransi tambahan yang dapat melengkapi produk asuransi dasar,” ujarnya. Untuk mendapatkan informasi mengenai keempat produk tersebut, ia menyarankan pembaca untuk masuk ke situs Sequis atau  dapat mengunjungi Sequis Care. 

 
 
 
 
 

Intan Rizky Adelia
Intan Rizky Adelia
14 November 2018